Beribu parang problema duniawi
Mulai mengasah ketajamannya ke dinding hati
Berjuta kebencian ini
Mulai menghancurkan diri sendiri
Aku manusia berdosa
Belum menemukan setitik cahaya
Aku manusia berdosa
Mencari nirwana dunia
Inilah pembukaan parade kebusukan hidup
Yang selalu abadi
Yang akan di akhiri dengan cinta
Aku percaya, ini belum berakhir.
Sabtu, 28 September 2013
Senin, 16 September 2013
Aku, Ibu dan Ludia
Ku warnai hari ini
Dengan hitam dan putih
Ku lukiskan hari ini
Di atas hati tanpa nurani
Pikirku padanya
"Apa aku indah tanpa bangganya?"
Benakku padanya
"Apa aku dosa di hatinya?"
Sejenak angin menari
Senja pun selalu menyertai
Di depan dua insan yang abadi
Aku dan Ia yang berkerudung putih
Ia memberiku setitik cahaya
Di mana tak ada manusia memuja berhala
Seketika itu juga Ia membunuhku dengan keji
Untuk aku hidup kembali di lembah nan suci
Dengan hitam dan putih
Ku lukiskan hari ini
Di atas hati tanpa nurani
Pikirku padanya
"Apa aku indah tanpa bangganya?"
Benakku padanya
"Apa aku dosa di hatinya?"
Sejenak angin menari
Senja pun selalu menyertai
Di depan dua insan yang abadi
Aku dan Ia yang berkerudung putih
Ia memberiku setitik cahaya
Di mana tak ada manusia memuja berhala
Seketika itu juga Ia membunuhku dengan keji
Untuk aku hidup kembali di lembah nan suci
Minggu, 15 September 2013
AKULAH DOSA
Akulah memuja-Mu
Aku tak pernah melihat-Mu
Aku tetap memuja-Mu
Engkau melihat-Nya
Engkau tak pernah memuja-Nya
Engkau tetap melihat-Nya
Aku tak pernah ingin menjadi pelita
Di tengah ribuan hati sepertimu
Aku tetap memuja-Nya
Tanpa dogma usang besertaku.
Pergilah Suci
Pergilah yang suci
Tinggalkan aku mati
Berlarilah mengejar mimpi
Ku tahu ku tak berarti di tanah ini
Pergilah suci
Ada yang suci selalu menemani
Menemanimu suci
Kubur lah aku di dasar derita ini
Tanpamu suci
Tinggalkan aku mati
Berlarilah mengejar mimpi
Ku tahu ku tak berarti di tanah ini
Pergilah suci
Ada yang suci selalu menemani
Menemanimu suci
Kubur lah aku di dasar derita ini
Tanpamu suci
Langganan:
Postingan (Atom)